Minggu, 27 November 2011

Kisah tentang Pohon, Daun, dan Angin

Pohon

Orang2 memanggilku "POHON" karena aku sangat baik dalam menggambar
pohon.

AKU selalu menggunakan gambar pohon pada sisi kanan sebagai trademark
pada semua lukisanku.

AKU telah berpacaran sebanyak 5 kali...

Ada satu wanita yang sangat AKU cintai..tapi AKU tidak punya keberanian
untuk mengatakannya...

Dia tidak cantik..tidak memiliki tubuh yang sexy..

Dia sangat peduli dengan orang lain..religius tapi..dia hanya wanita
biasa saja.

AKU menyukainya..sangat menyukainya..Gayanya yang innocent dan apa
adanya..kemandiriannya..kepandaiannya dan kekuatannya...

Alasan AKU tidak mengajaknya kencan karena...

AKU merasa dia sangat biasa dan tidak serasi untukku...

AKU takut...jika kami bersama semua perasaan yang indah ini akan
hilang...

AKU takut kalau gosip2 yang ada akan menyakitinya...

AKU merasa dia adalah "sahabatku"...

AKU akan memilikinya tiada batasnya...tidak harus memberikan semuanya
hanya untuk dia...

Kasih Sayang Seorang Ibu

Apa sumber motivasi terbesar dalam hidup? Mungkin jawaban yang tepat
adalah CINTA!! Cinta di sini bukan hanya berarti hubungan sepasang
insan berlainan jenis, namun lebih kepada cinta universal. Cinta
seorang ibu / ortu pada anaknya atau sebaliknya.. Inilah kekuatan
terbesar yang dimiliki yang bisa menjadi sumber motivasi bagi semua
orang.
Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang
anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja,
seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan bahagian
nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata :
“Makanlah nak, aku tidak lapar”
———-KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan
waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu
berharap dari ikan hasil pancingan, ia dapat memberikan sedikit makanan
bergizi untuk pertumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan
yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu
duduk disamping kami dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel
di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku
melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan suduku
dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia
berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan”
———-KEBOHONGAN IBU YANG KE DUA

Sekarang aku sudah masuk Sekolah Menengah, demi membiayai sekolah
abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak
mancis untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit
uang untuk menutupi kepentingan hidup. Di kala musim sejuk tiba, aku
bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil
dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak mancis. Aku
berkata : “Ibu, tidurlah, sudah malam, besok pagi ibu masih harus
kerja.” Ibu tersenyum dan berkata : “Cepatlah tidur nak, aku tidak
penat”
———-KEBOHONGAN IBU YANG KE TIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku
pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari,
ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama
beberapa jam. Ketika bunyi loceng berbunyi, menandakan ujian sudah
selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah
disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak
dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat
ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu
sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata : “Minumlah nak, aku tidak haus!”
———-KEBOHONGAN IBU YANG KE EMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap
sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu,
dia harus membiayai keperluan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita
pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat
kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang pakcik yang baik hati
yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar
maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat
kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk
menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan
nasehat mereka, ibu berkata : “Saya tidak butuh cinta”
———-KEBOHONGAN IBU YANG KE LIMA

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah
dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pencen. Tetapi ibu tidak
mahu, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit
sayur untuk memenuhi keperluan hidupnya. Kakakku dan abangku yang
bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu
memenuhi keperluan ibu, tetapi ibu berkeras tidak mau menerima uang
tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : “Saya ada
duit”
———-KEBOHONGAN IBU YANG KE ENAM

Setelah lulus dari ijazah, aku pun melanjutkan pelajaran untuk buat
master dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universiti
ternama di Amerika berkat sebuah biasiswa di sebuah syarikat swasta.
Akhirnya aku pun bekerja di syarikat itu. Dengan gaji yang lumayan
tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika.
Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mahu menyusahkan anaknya, ia
berkata kepadaku : “Aku tak biasa tinggal negara orang”
———-KEBOHONGAN IBU YANG KE TUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanser usus,
harus dirawat di hospital, aku yang berada jauh di seberang samudera
atlantik terus segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku
melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani
pembedahan. Ibu yang kelihatan sangat tua, menatap aku dengan penuh
kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku
karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu
menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering.
Aku menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perit, sakit sekali
melihat ibuku dalam keadaan seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya
berkata : “Jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan”
———-KEBOHONGAN IBU YANG KE DELAPAN.

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kelapan, ibuku tercinta
menutup matanya untuk yang terakhir kalinya. Dari cerita di atas, saya
percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali
mengucapkan : “Terima kasih ibu..!” Coba dipikir-pikir teman, sudah
berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah
kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu
kita? Di tengah-tengah aktiviti kita yang padat ini, kita selalu
mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang
kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah. Jika
dibandingkan dengan pasangan kita, kita pasti lebih peduli dengan
pasangan kita. Buktinya, kita selalu risau akan kabar pasangan kita,
risau apakah dia sudah makan atau belum, risau apakah dia bahagia bila
di samping kita. Namun, apakah kita semua pernah merisaukan kabar dari
orangtua kita? Risau apakah orangtua kita sudah makan atau belum? Risau
apakah orangtua kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau
ya, coba kita renungkan kembali lagi… Di waktu kita masih mempunyai
kesempatan untuk membalas budi orangtua kita, lakukanlah yang terbaik.
Jangan sampai ada kata “MENYESAL” di kemudian hari.



Tetap Sayangi Ibu Kita Ya....

Kamis, 24 November 2011

Manusia Paling Pemurah


Pada permulaan Islam, tepatnya pada zaman sahabat, sambil diniatkan i’tikaf, orang-orang yang berkumpul di sekitr kabah. Mereka saling berbicara tentang kebaikan.
Suatu hari, ada tiga orang yang berdebat mengenai orang yang paling dermawan di antara kaum muslimin.
Orang pertama berkata, “Manusia paling pemurah adalah Abdullah bin Ja’far.”
Orang kedua berkata, “Tidak bisa, manusia paling pemurah adalah Arabah Al-Ausi”
Orang ketiga berkata, “Kalian berdua keliru, manusia paling pemurah adalah Qaish bin Sa’ad.”
Tiga orang itu berselisih sengit. Suara mereka meninggi. Orang pertama kembali mengatakan dengan suara tegas, “Abdullah bin Ja’far yang paling pemurah!”
Orang yang kedua membantah, “Tidak bia, Arabah Al-Ausi lebih pemurah!”
Orang ketiga tidak terim, “Tak bisa di sangkal, banyak yang mengatakan Qaish bin Sa’ad manusia paling pemurah.”
Perdebatan mereka bertiga menarik perhatian banyak orang. Akhirnya, ratusan orang mengelilingi mereka bertiga. Orang-orang itu ingin mengetahui apa yang mereka perdebatkan.
Setelah tahu duduk persoalannya, mereka memberi saran, “Sebaiknya, kalian temui satu persatu ketiga orang yang kalian anggap paling pemurah itu. Ujilah mereka. Setelah itu, kembalilah ke sini. Beritahukan apa yang kalian saksikan, biar kami yang memutuskan siapa yang paling pemurah.”
Saran itu disetujui oleh ketiga lelaki itu.

***
            Lelaki pertama pergi ke rumah Abdullah bin Ja’far. Dia bertemu Abdullah di depan rumahnya. Saat itu, Abdullah sedang bersiap hendak menunggang untanya dan pergi ke kebunya.
Lelaki pertama berkata kepada Abdullah, “Wahai anak paman Rasulullah, aku seorang Ibnu Sabil, aku tidak mempunyai keluarga.”
Seketika itu, Abdullah bin Ja’far turun dari untanya dan berkata, “Naiklah unta ini. Ia menjadi milikmu. Ambillah kanting dan isinya yang ada di punggung unta itu. Ambil pula pedang ini. I ni adalah pedang Ali bin Abi Thalib.”
Lalu, lelaki pertama kembali ke Mekkah dan membuka kantongyang ada di punggung unta. Ternyata, kantong itu berisi pakaian dan uang dinar emas, yang sangat banyak, juga [edang milik Ali bin Abi Thalib.”
Lelaki kedua pergi ke rumah Qaisbin Sa’ad. Saat itu, Qais sedang tidur. Dia ditemui oleh pembantunya.
Dengan ramahnya, sang pembantu bertnya, “Qais sedang tidur. Apa yang kau inginkan?”
Dia menjawab, “Aku Ibnu Sabil, tidak punya keluarga.”
Pembantu Qais berkata, “Ambil kantong ini. Di dalamnya ada tujuh ratus dinar. Itu adalah semua harta yang ku  miliki. Biarlah, nanti aku bertahukan hal ini kepada Tuan Qais.”
Lalu, pembantu itu mengajaknya ke kandang unta dan meminta agar lelaki itu mengambil seekor unta yang disukainya.
Setelah mengambil seekor unta, lelaki itu mengucapkan terima kasih ke pada si pembantu, lalu pergi menuju ke Masjidil Haram.
Ketika Qais bangun, pembantunya itu mengabarkanya perihal lelaki tadi kepadanya. Qais senang dengan apa yang  telah dilakukan oleh pembantu itu. Dia berterima kasih dan mengganti uang tujuh ratus dinar yang diberikan kepada lelaki yang baru datang tadi.
Lelaki ke sampai ke kebah dengan membawa unta dan uang sejumlah tujuh ratus dinar.
Lelaki ketiga pergi ke rumah Arabah. Dia menjumpai arabah di depan rumah, saat Arabah hendak pergi ke masjid. Arabah adalah seorang yang buta. Dia bergantung kepada seorang budak yang membantunya mengantar ke masjid.
Lelaki bertiga itu berkata, “Hai Arabah, Aku Ibnu Sabil, dan aku tidak punya keluarga.”
Sekatika, Arabah menjawab, “Ambillah, budakku ini, dia satu-satunya harta yang ku miliki.”
Setelah memberikan budaknya, Arabah berjalan debngan meraba-raba dinding-dinding  menuju masjid. Sementara, lelaki ketiga membawa budak yang didapatnya dari Arabah ke Kabah.
Orang-orang burkumpul di sekeliling tiga orang itu. Mereka menceritakan apa yang mereka alami satu per satu.
Bagaimanakah akhirnya orang-orang itu memutuskan? Siapakah yang pling pemurah?
Orang-orang mengatakan, “Tiga orang itu semuanya sangat pemurah, tetapi Arabah adalah yang paling pemurah dan paling dermawan. Dia memberikan semua harta yang dimilikinya. Padahal, dia sangat memerlukanya, yaitu budak yang menuntun jalannya.
Sumber : Buku ketika cinta berbuah Surga karya Habiburrahman El Shirazy

Belajar Cinta dari Cicak


Ketika sedang merenovasi sebuah rumah,
seseorang mencoba merontokan tembok. Rumah di Jepang biasanya memiliki
ruang kosong di antara tembok yang terbuat dari kayu. Ketika tembok
mulai rontok, dia menemukan seekor cicak terperangkap diantara ruang
kosong itu karena kakinya melekat pada sebuah surat.

Dia merasa kasihan sekaligus penasaran. Lalu ketika dia mengecek surat itu,
ternyata surat tersebut telah ada disitu 10 tahun lalu ketika rumah itu pertama kali dibangun.

Apa yang terjadi?
Bagaimana cicak itu dapat bertahan dengan kondisi terperangkap selama 10 tahun?
Dalam keadaan gelap selama 10 tahun, tanpa bergerak sedikit pun, itu adalah
sesuatu yang mustahil dan tidak masuk akal.

Orang itu lalu berpikir, bagaimana cicak itu dapat bertahan hidup selama 10 tahun
tanpa berpindah dari tempatnya sejak kakinya melekat pada surat itu!
Bagaimana dia makan?

Orang itu lalu menghentikan pekerjaannya dan memperhatikan cicak itu.
Apa yang dilakukan dan apa yang dimakannya hingga dapat bertahan.
Kemudian, tidak tahu dari mana datangnya, seekor cicak lain muncul dengan makanan di mulutnya.... AHHHH!

Orang itu merasa terharu melihat hal itu. Ternyata ada seekor cicak lain yang
selalu memperhatikan cicak yang terperangkap itu selama 10 tahun.

Sungguh
ini sebuah cinta, cinta yang indah. Cinta dapat terjadi bahkan pada
hewan yang kecil seperti dua ekor cicak itu. apa yang dapat dilakukan
oleh cinta? Tentu saja sebuah keajaiban. Bayangkan, cicak itu tidak
pernah menyerah dan tidak pernah berhenti memperhatikan pasangannya
selama 10 tahun. Bayangkan bagaimana hewan yang kecil itu dapat
memiliki karunia yang begitu menganggumkan.

Lovely You As A Cold Ice, Hunny

Dimana Allah????


Padang pasir membentang luas. Matahari bersinar menyala seolah hendak membakar ubun-ubun kepala. Di sebuah jalan yang membela padang pasir, tampak seorang berjubah putih sedang berjalan kelelahan. Orang itu tidak lain adalah Abdullah bin Umar ra, salah seorang sahabat Nabi Muhammad saw, yang terkenal kealiman (tinggi ilmu) dan kezuhudannya (sederhana). Dia sedang berjalan keluar dari Madinah menuju Makkah untuk beribadah di Baitullah.
Berkali-kali Abdullah bin Umar ra menghentikan langkahnya sesaat, untuk meminum seteguk air perbekalannya,. Namun sayang, kantong airnya telah kering kerontang. Dia benar-benar kehausan. Dia melihat ke sekelilingnya, siapa tahu orang Badui atau pengembala yang bias memberinya seteguk air penawar dahaga. Namun, sejauh mata memandang, yang dia temukan hanyalah warna kecoklatan samudera pasir.
Dia tetap bersabar dan terus berjalan, sampai akhirnya matanya menangkap beberapa titik hitam dan putih di kejauhan sana, di balik bukit pasir. Hatinya merasa lega, berkali-kali dia menguicapkan syukur alhamdulillah. Dia yakin, titik hitam dan putih itu adalah manusia. Abdullah terus melangkahkan kaki untuk mendekati titik hitam dan putih itu. Ketika sudah dekat, perkiraannya meleset. Titik hitam dan putih itu adalah seorang pengembala dan kambing-kambingnya.

Saya ingin Mati Saja

Seorang pria setengah baya mendatangi seorang guru, “Guru, saya sudah bosan hidup. Sudah jenuh betul. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yg saya lakukan sll berantakan. Saya ingin mati.”
Sang Guru tersenyum, “Oh, kamu sakit.”
“Tdk Guru, saya tdk sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati.”
Seolah-olah tdk mendengar pembelaannya, sang Guru meneruskan, “Kamu sakit. Dan penyakitmu itu sebutannya, ‘Alergi Hidup’. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan. Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku.”

Senin, 21 November 2011

Lelaki Sejati


Kisah ini terjadi pada masa Khalifah Umar bin Khattab ra. Ada seorang pemuda kaya, hendak pergi ke Makkah untuk melaksanakan ibadah umrah. Dia mempersiapkan segala perbekalannya termasuk unta yang akan digunakan sebagai kendaraan. Setelah semuanya dirasa siap, dia pun memulai perjalanannya.
Di tengah perjalanan, dia menemukan sebuah tempat yang ditumbuhi rumput hijau nan segar. Dia berhenti di tempat itu untuk beristirahat sejenak. Pemuda itu duduk di bawah pohon. Akhirnya, dia telelap dalam tidurnya yang nyenyak.
Saat dia tidur, tali untnya lepas, sehingga unta itu pergi kesana ke mari. Akhirnya, unta itu masuk ke kebun yang ada di dekat situ. Unta itu memakan tanam-tanaman dan buah-buahan di dalam kebun. Dia juga merusak segala yang dilewatinya.
Penjaga kebun itu adalah kakek yang sudah tua. Sang kakek berusaha mengusir unta itu. Namun, dia tidak bisa. Karena khawatir unta itu akan merusak seluruh kebunnya, lalu sang kakek membunuhnya.
Ketika bangun pemuda itu mencari untanya. Ternyata, dia menemukan unta itu telah tergeletak mati dengan leher menganga di dalam kebun. Pada saat itu seorang kakek datang.
Pemuda itu bertanya, “Siapa yang membunuh unta ini?”
Kakek itu menceritakan apa yang telah dilakukan oleh unta itu.karena khawatir akan merusak seluruh isi kebun, terpaksa dia membunuhnya.
Mendengar hal itu, sang pemuda sangat marah sehingga tak terkendalikan. Serta-merta, dia memukul kakek penjaga kebun itu. Naasnya, kakek itu meninggal seketika. Pemuda itu menyesal atas apa yang telah di perbuatnya. Dia berniat kabur.
Saat itu, datanglah dua orang anak kakek tadi. Mengetahui ayahnya telah tergeletak tak bernyawa dan disebelahnya berdiri pemuda itu, mereka lalu menangkapnya.